Pengembangan Model Skrining Digital Risiko Penyakit Menular Seksual pada Remaja Berbasis Self-Assessment
Abstrak
Penyakit menular seksual (PMS) pada remaja sering tidak terdeteksi karena hambatan kerahasiaan, stigma, dan keterbatasan akses layanan. Penelitian metodologis kuantitatif ini bertujuan mengembangkan model skrining digital risiko PMS berbasis self-assessment untuk remaja di Kecamatan Rengat tahun 2025. Kerangka populasi menggunakan 3.211 siswa SMA, SMK, dan MA; kebutuhan sampel dihitung 356 responden dan ditambah 10% menjadi 392. Karena data primer lapangan tidak diberikan, analisis pengembangan model menggunakan 392 catatan simulasi terstruktur yang dikalibrasi pada karakteristik sasaran. Delapan prediktor self-assessment dianalisis dengan regresi logistik multivariat, kurva ROC, Brier score, dan bootstrap untuk validasi internal. Sebanyak 82 catatan (20,9%) memenuhi kriteria kebutuhan rujukan skrining. Prediktor terkuat adalah gejala PMS (OR 7,09; IK95% 3,31–15,18), ketidakkonsistenan penggunaan kondom (OR 4,33; IK95% 1,52–12,32), dan literasi kesehatan seksual rendah (OR 2,30; IK95% 1,22–4,33). Model memiliki AUC 0,852 (IK95% 0,800–0,897), Brier score 0,110, dan AUC terkoreksi optimisme 0,838. Skor sederhana 0–16 memberikan AUC 0,851; pada ambang ≥4 poin sensitivitas 73,2%, spesifisitas 84,5%, dan nilai prediksi negatif 92,3%. Model berpotensi menjadi alat triase digital awal yang mengarahkan remaja ke edukasi, konseling, atau pemeriksaan profesional, tetapi memerlukan validasi prospektif dengan data lapangan sebelum penggunaan klinis atau programatik






